Kritik dan Esai Sastra Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono

DRAMATURGI DARI BANGKU SEKOLAH
.....HINGGA ISTANA NEGARA

Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.
Sajak atau puisi merupakan suatu imajinasi yang diungkapakan oleh pengarangnya. Bagaimana seseorang tersebut menggambarkan suatu kejadian, bagaimana seseorang tersebut mengungkapkan segala isi hatinya, bagaimana seseorang tersebut melukiskan sosok dirinya, dan sebagainya.
Karya sastra sajak atau puisi adalah satu dari sekian banyak karya sastra yang cukup menarik untuk dipelajari. Di dalam karya sastra puisi terdapat unsur – unsur yang harus dipelajari dan dipahami, yaitu unsur intrisik dan ekstrinsik.
Sebagai contoh, Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono. Bagaimana penyair ini memotret kehidupan masyarakat bangsa ini yang penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Bahwa kehidupan seperti itu setiap saat kita saksikan, lalu siapa yang mereflesikan peristiwa itu ke dalam sebuah puisi yang lalu diberi judul “Sajak Palsu”? gagasan kehidupan yang penuh kepalsuan dan kemudian mengungkapkannya lewat puisi dengan penyajian yang ringan, terkesan berseloroh, tetapi justru mengangkat sebuah persoalan besar yang menyangkut kehidupan bangsa. Dalam hal inilah “Sajak Palsu” memperlihatkan orisinalitasnya yang khas dari gagasan penyairnya.
Perhatikan kutipan larik puisi berikut.
 “Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.”

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana kepalsuan dan kepura-puraan terbentuk dalam konsep Dramaturgi, di mana setiap peran yang disebutkan di atas, yaitu guru di sekolah, ekonom, ahli hukum, petani, insinyur, seniman, ilmuan dan panglima palsu. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep Dramaturgis, manusia akan menggambarkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.
Perhatikan kutipan larik puisi berikut.
 “Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru.”

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana konsep Dramaturgi terbentuk antara Guru dan Orang tua murid. Pada saat di kelas, seorang guru berperan sebagai pengajar dan pendidik. Mereka memberi berbagai peraturan dan tugas di kelas. Mereka melakukan tugas di kelas sesuai dengan peran mereka sebagai pengajar. Namun di luar perannya tersebut, mereka berperilaku seperti orang lain yang tidak memiliki peran sebagai pengajar. Layaknya seorang aktor dan aktris, jika berada di depan panggung (front stage), mereka harus memiliki kemampuan untuk menjadi orang lain atau sebuah karakter yang berbeda. Sedangakan back stage ini merupakan karakter asli dari diri mereka yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Perhatikan beberapa larik terakhir puisi berikut.
“Lalu orang-orang palsu / meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan / gagasan-gagasan palsu di tengah seminar / dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya / demokrasi / demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring / dan palsu.”

            Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana “Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono merupakan kerya yang berhasil. Puisi tersebut mengangkat potret sosial. Dengan gaya penyajian seperti itu, Agus seolah menertawakan kehidupan sosial kita yang serba palsu dan penuh kepura-puraan. Mengingat potret sosial itu disajikan secara berseloroh, apa adanya, maka refleksi evaluatifitas peristiwa itu tidak muncul sebagai keprihatikan yang dapat merangsang emosi pembacanya.
....

SAJAK PALSU
Agus R. Sarjono

Sajak Palsu
Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu.Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu

(http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/).

Kritik dan Esai Sastra - Cerpen Tangisan Anakku karya Shoim Anwar

TIDAK DI NEGERI ANTAH BERANTAH

Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.
Cerpen Tangisan Anakku merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas kehidupan masyarakat. Soim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca dengan menampilkan problema kehidupan seorang pria yang bernama Huki, berpredikat sebagai kepala perkantoran yang bekerja di sebuah lembaga instansi negara, akan tetapi karena proses dalam menggapai itu semua dengan jalan yang bisa dibilang curang dan instan maka karir Huki berakhir suram dan pada akhirnya membuat pria dari tiga anak tersebut mengalami gangguan kejiwaan.
Siapapun orangnya setelah menempuh sekian tahun pelajaran di sekolah pasti sangat mendambakan lulus ujian nasional (UN). Banyak usaha dan upaya yang dilakukan agar dapat lulus ujian nasional ini, dari cara-cara yang baik yaitu dengan belajar sungguh-sungguh sampai menggunakan cara yang tidak terpuji seperti membocorkan soal - soal yang akan keluar dalam ujian nasional tersebut. Semua itu dilakukan tidak lain agar dapat lulus dalam ujian nasional, syukur-syukur dapat lulus dengan hasil yang memuaskan.
Sebagai contoh, cerpen Tangisan Anakku karya Shoim Anwar. Bagaimana penyair ini memotret sitem pendidikan di negara ini yang semakin memprihatinkan. Dalam hal inilah “Tangisan Anakku” memperlihatkan orisinalitasnya yang khas dari gagasan penyairnya.



Perhatikan kutipan berikut.
“Huki, kamu kan siswa paling malas. Pingin lulus, kan?” tanya pak Dar, kepala sekolah kami.
“Ya, Pak,” aku mengangguk.
“Nah, perhatikan untuk semuanya. Jangan sampai ketahuan orang luar. Jaga, ya?”
“Bereeees,” kami serentak koor.......(Shoim Anwar, 2009: 102)”

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana sikap kepala sekolah yang berniat meluluskan semua siswa baik yang pintar dan malas dengan cara curang. Sistem pendidikan saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun pada kenyataan dilapangan, sering kali dilihat dari nilai raport yang dimanipulasi, jarang bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar.
Perhatikan kutipan berikut.
“Soal ujian, yang para pembuatnya harus dikarantina, soal disiman di kantor polisi dan dijaga ketat, pihak sekolah ketika mengambil dan menyetor harus dikawal polisi, ternyata tidak bemakna apa-apa. Aku dapat lulus dengan mudah berkat cara-cara di atas. Aku tak ingin kuliah, tapi aku ingin cari cepat bekerja agar dapat bayaran. Dengan bekal ijazah sekolah atas itulah aku daftar tes pegawai negeri.....(Shoim Anwar, 2009: 103)”

Dari kutipan di atas dijelaskan begitu banyak pilihan yang  bisa dilakukan oleh seorang siswa, terlepas apakah orang tua bisa mengerti ataupun tidak keinginan putra-putirnya. Tidak besekolah memag keputusan yang sangat berat, berbagai macam keberatan akan muncul, bagaimana dengan diskuis, bagaimana dengan penyamaan persepsi terhadap suatu permasalahan, jika tidak bersekolah, bagaimana dapat menemukan lingkungan yang kondusif untuk belajar, atau yang lebih umum, karena bangsa kita adalah bangsa yang gila gengsi dan gelar, bagaimana dengan pekerjaan, jika tidak punya gelar. Poin inilah yang paling menjanjikan, sekolah hanya untuk mencari gelar??.



            Masa sekolah dan perguruan tinggi terlewati dengan mudah, Huki pun lolos tes uji dan diterima sebagai pegawai negeri. Berbekal ijazah yang didapat hanya kurang dari  dua tahun, Huki kini bisa menikmati kariernya sebagai pegawai pemerintah, hari-hari yang dilalui begitu santai, seakan tanpa beban namun gaji terus mengalir.
Perhatikan kutipan berikut.
“Terus terang, prestasi kerja di kantor memang tak ada peningkatan dan hanya rutinitas. Aku mengalami dan merasakan karena aku juga pelakunya. Para personilnya banyak mengantongi gelar baru yang lebih tinggi, tapi ilmu dan sikap mereka tambah merosot kerena gelar itu diperoleh dengan cara instan. Mereka, aku juga, minta jabatab dan tunjangan-tunjangan lebih banyak karena punya gelar baru. Dari uang rakyat, negara harus mengeluarkan biaya lebih banyak lagi bagi birokrat yang modelnya kayak gini. Tapi apa boleh buat. Toh mereka yang di atas juga memberi contoh demikian .....(Shoim Anwar, 2009: 106)””


            Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana aktifitas pegawai negeri yang tiap hari hanya mengobrol dari lorong-lorong ketawa ketiwi, tidak ada beban pekerjaan, sambil menunggu proyek turunan. Cara mencari duit mereka salah satunya dengan menaikkan gelar, perjalanan dinas fiktif, dari sliip atau invoice hotel, tiket pesawat, tiket boarding pass, semua bisa dipalsukan alias kalau perjalanan dinas kalau tidak berangkat malah mendapat duit. Kita bisa lihat di kantor-kantor kelurahan dan kecamatan, pelayanan masyarakat hanya isapan jempol belaka, pukul 10-11 masih pada kosong. Di tempat dinas yang lain, pegawai juga hanya datang absesn langsung pulang dan sore datang lagi untuk absen saja. Jadi untuk apa mereka menjalani itu semua, mengejar prestasi..?? Ironi sekali negara ini.

Kritik dan Esai Sastra - Cerpen “Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya..” karya Shoim Anwar

Menguak Driskiminasi
(Cerpen “Jawa, Cina, Madura nggak masalah.
 Yang penting rasanya..” karya Shoim Anwar)

            Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia memiliki beragam suku, ras, budaya dan bahasa. Hal ini bisa menjadi konflik jika kita tidak memiliki sebuah ideologi yang mengedepankan sebuah persatuan di Indonesia. Bersyukur kita memiliki Pancasila sebagai ideologi yang kita pegang teguh dan kita anut.
            Tetapi pada kenyataannya di Indonesia dampak negatif dari beragam agama, ras, budaya, bahasa telah menyebabkan konflik antar kelompok masyarakat. Sebagai contoh pembakaran pasar Glodok (peristiwa Mei kelabu) di Jakarta yang menjadi sasaran kelompok etnis cina. Peristiwa Sambas dan Palangkaraya (pertarungan antara Dayak dan Melayu melawan Madura), Peristiwa Aceh (pertarungan orang Aceh dan transmigrasi Jawa).
 Menguak adanya diskriminasi yang pernah terjadi di Indonesia merupakan tema yang diangkat oleh Shoim Anwar dalam cerpenya yang berjudul “Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya”. Adanya sikap membanding-bandingkan antar suku kerap terjadi dalam pergaulan masyarakat. Diperlihatkan dalam cerpen ini pada kutipan berikut:
“Jangan macam-macam. Kurang apa aku?
“Nggak kurang.”
“Pakai membanding-bandingkan dengan Cina dan Madura segala.”
“Justru harus dibandingkan biar tahu kelebihannya” (Shoim Anwar, 2009:182).

Kisah diskriminasi suku terutama pada etnis cina di Indonesia sudah beredar sejak lama. Sikap anti cina itu muncul karena berbagai stereotip yang digemborkan dan akhirnya menguasai pemikiran masyarakat. Kerusuhan terjadi dengan pengrusakan terhadap toko-toko, hotel, maupun tempat usaha milik orang cina. Ditunjukkan pada kutipan berikut:
            “Gara-gara kerusuhan. Dulu toko orang tuanya besar sekali. Sewaktu ada huru-hara, toko orang-orang Cina di sini dirusak dan dijarah massa. Habis semua (Shoim Anwar, 2009;183).
            Kutipan di atas menunjukkan adanya diskriminasi terhadap entis cina. Disini, diduga bahwa konflik ini pertama-tama terjadi karena kepentingan politik. Setelah kerusahan itu, banyak orang cina yang kehilangan segala-galanya. Mereka kehilangan harapan, harga diri sebagai manusia, dan juga harta mereka. Akhrinya banyak etnis cina yang kemudian lari ke luar negeri. Kejadian ini menimbulkan trauma tersendiri bagi etnis cina, seperti trauma yang dialami tokoh Ko Han yang terlihat pada kutipan berikut:
            “Barangkali karena pengalaman hidup yang pahit, sentimen etnis itu justru dipakai Ko Han untuk melangsungkan kehidupanya. Dia mungkin ingin membalik sentimen itu menjadi simpati” (Shoim Anwar, 2009:184).

            Terjadinya diskriminasi ini merupakan salah satu tantangan dari segenap warga bangsa Indonesia dalam berproses menuju kesejahteraan sosial yang adil berdasarkan Pancasila. Itulah pesan yang tersirat dari cerpen ini. Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya merupakan gambaran bahwa perbedaan suku dan budaya di negara kita bukanlah suatu hal yang menjadi hambatan untuk kita bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dasar negara Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 telah memberikan payung hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kondisi masyarakat yang beragam tersebut.

Kritik dan Esai Sastra - Puisi Bersatulah Pelacur Kota Jakarta

Kemerosotan Moral
(Puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta karya W.S. Rendra)

Salah satu karya sastra yang menunjukkan kritik sosial adalah Sajak-sajak Dua Belas Perak Karya W.S. Rendra. Sastrawan ini sangat piawai dalam membacakan sajak serta melakonkan seseorang tokoh dalam dramanya sehingga membuatnya menjadi seorang bintang panggung yang kemudian dijuluki sebagai “Burung Merak”. Rendra juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah dan berbau protes seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.
Puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta menggambarkan tentang Kemunafikan para Pemimpin Negeri ini, dimana secara birokrasi mereka melarang suatu kegiatan/aktivitas rakyatnya tetapi dalam realita kehidupan mereka (para pejabat) justru yang paling rakus dan mendapatkan yang paling banyak dalam hal-hal yang merugikan rakyat (korupsi, judi, pelacuran. dll). Seperti dalam bait 6:

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Puisi ini juga menunjukkan adanya kemerosotan moral. Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuan hukum, agama dan moral masyarakat. Di sini pengarang memprotes perbuatan bejad para pejabat, yang merendahkan derajat wanita dengan mengatakan sebagai inspirasi revolusi, tetapi dijadikan tidak lebih dari pelacur. Perhatiakan kutipan dari sajak berikut:

Sarinah
Katakan kepada mereka
bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
tentang perjuangan nusa bangsa
dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
ia sebut kau inspirasi revolusi
sambil ia buka kutangmu

Kritik pada puisi ini mempotret penderitaan manusia. Banyak faktor yang membuat manusia itu menderita. Tetapi yang paling menentukan ialah faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita akibat nafsu ingin berkuasa, serakah, tidak hati-hati dan sebagainya. Dimana-mana terjadi perang, kelaparan, kecelakaan nuklir, gas beracun, yang menimbulkan banyak korban manusia tak berdosa. Keadaan yang demikian ini tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena nilai kemanusiaan telah diabaikan. Puisi ini benar-benar mampu membuka mata kita terhadap aspek lain akan pelacuran. Selain itu sepertinya puisi ini juga bermaksud untuk mendukung para pelaku prostitusi untuk menata hidup mereka, dengan tentunya dibantu oleh pemerintah. Pemerintah jangan hanya bisa razia tanpa memberi solusi bagi demoralisasi sosial karena merupakan tanggung jawab bersama.




Lampiran

Sajak W.S. Rendra
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya


Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan


Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina

Dengan isteri saudaranya.